Alasan

Bisakah kau bayangkan bagaimana ekspresimu atau tindakanmu ketika bertemu seseorang yang mirip dengan seseorang lainnya dari masa lalumu yang telah lama hilang dimana orang yang hilang itu adalah bagian terpenting dari hidupmu? Bahagia? Kaget? Heran? Bingung? Mungkin pikiran dan perasaanmu campur aduk. Seperti yang kualami saat ini.
Aku kehilangan ibuku dua tahun yang lalu, yang mana kepergiannya menyisakan luka yang mendalam dan membuat hidupku yang sebelumnya kelabu semakin gelap. Pikiranku dan hatiku semakin dingin karena tidak ada lagi sesuatu yang mampu menarikku keluar dari kotak hitam duniaku. Seingatku, hanya dia orang tempat aku bisa bertingkah baik dan sangat aku hormati.  Aku melihat dunia ini menjadi semakin tak menarik. Aku hanya menunggu waktuku. Sampai aku disadarkan akan keberadaan seseorang.
Aku bukanlah manusia yang begitu mudah simpati kepada orang. Cuek, dingin, acuh tak acuh, sudah menjadi tanda pengenal bagi diriku dan aku sadar akan hal itu sepenuhnya. Bagiku keberadaan pria dan wanita tidaklah berbeda. Mereka semua manusia. Sama. Makhluk vertebrata berjalan tegak yang lahir, tumbuh, berkembang, lalu mati. Hal ini menjadikan aku sama sekali tidak mudah tertarik kepada lawan jenis. Hei, aku bukan homo atau gay atau apalah namanya. Aku tetap punya ketertarikan kepada lawan jenis. Hanya sedikit saja kusisakan di dalam hatiku. Tapi hal itu selalu kukekang selama ini karena menurutku merepotkan.  Tidak akan kulepas sampai aku pikir benar-benar harus dilakukan.
Namun, ada satu kejadian yang mampu mengganggu sistem kerja otakku. Yaitu saat aku menyadari bahwa ada seseorang yang ternyata memiliki beberapa kemiripan dengan ibuku. Well, dia juga seorang perempuan. Awalnya aku hanya menganggap biasa. Mungkin ini salah satu dari bagian kebetulan. Tapi sekian lama kuperhatikan, kupikirkan, dan kurasakan, hei..kenapa bisa? Siapa dia? Mulai dari situlah aku mulai mengamatinya. Kejadian itu dimulai di semester tiga, saat aku mendapatkan tugas bersama orang lain. Aku biasanya selalu menyelidiki setiap orang yang akan bertugas bersamaku ataupun yang sekedar kenal. Hal itu kuanggap perlu agar bisa menyesuaikan dengan mereka nantinya.
Hari demi hari kujalani. Aku mulai merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku yang biasanya seperti robot bertingkah tak biasa kepada dia. Iya, dia yang kubilang memiliki beberapa kemiripan dengan ibuku tadi. Sifatnya yang polos-lugu, seakan tak bisa bohong, dan disenangi banyak orang, mengingatkanku pada sosok ibuku dulu. Secara tak langsung aku merasa seperti telah kenal. Seperti merasa harus bersikap baik pada dirinya. Haha, aku merasakan kebahagian tersendiri. Seakan menemukan lagi orang yang dulu telah hilang. Disamping kemiripan tadi, sosoknya memang menarik. Aku sadar sepenuhnya kalau aku sudah tertarik padanya. Kadang-kadang aku tertawa sendiri mengingat diriku yang seperti robot tak berperasaan tiba-tiba bisa berubah ketika berhadapan dengannya. Aku hanya berpikir tidak pantas jika dia diperlakukan sama seperti aku memperlakukan manusia lainnya karena dia benar-benar berbeda.
Ternyata tindakan-tindakan “aneh”-ku tadi terbaca oleh teman-teman sekelompokku. Ya, aku bukannya tidak tahu, tapi hanya berpura-pura tidak tahu dan menganggap mereka hanya bercanda. Aku hanya ingin perasaanku yang sebenarnya tidak diketahui oleh yang lain. Cukup aku sendiri yang merasakan. Tapi ternyata semua sudah terbongkar. Mereka mengetahuinya! Ya ampun, aku malu setengah mati. Ternyata hipotesisku selama ini terbukti, yaitu aku tak bisa bersembunyi atau menangani persoalan mengenai perasaan. Aku yang selalu memenangkan logika dan rasionalitas diatas segalanya kalah ketika diserang segerombolan kecil perasaan.
Beberapa orang teman mulai heboh. Kalimat “ciyee” dan sebangsanya mulai bertebaran di media sosial milikku akhir-akhir ini. Mereka bilang jadian lah, inilah , itulah. Hahaha, aku tidak tahu harus menghadapinya bagaimana. Jujur disatu sisi aku senang karena tindakan-tindakanku selama ini boleh dikatakan diterima. Apalagi mengingat “dia” adalah salah satu sosok yang paling disayang dikelasku. Ada pula yang bilang aneh karena tiba-tiba makhluk gila sepertiku bisa berubah seperti itu. Namun disisi lain aku merasa bingung dan kurang enak. “Dia” ujung-ujungnya terlibat dari masalah “ciyee” dan sebangsanya tadi. Aku hanya tidak ingin dia merasa risih, kurang nyaman, atau bagaimana.
Beberapa teman ada yang bilang, “dekatilah”,”jadian”, dan lain sebagainya. Aku hanya tersenyum membaca hal ini. Aku memang menyayanginya, tapi bagiku adalah hal konyol bila pacaran dilakukan sebelum melakukan ikatan resmi yang namanya pernikahan. Bagaimana mungkin seseorang yang masih belum bisa berdiri diatas kakinya sendiri mencoba menggandeng orang lain? Hal ini lucu, konyol, dan sama sekali tidak pantas. Berdasarkan apa yang kulihat, kubaca, kupikirkan dan yang kudengar, pacaran justru akan lebih menarik jika dilakukan setelah pernikahan. Aku memang sangat ingin dekat, tapi bukan berarti tanpa batas.  Ada batas yang kuketahui dan yang harus kupatuhi. Aku hanya boleh bergerak sampai batas itu. Perasaan sayang memang manusiawi, namun sebagai manusia kita harus mengontrolnya. Sampai belum ada ikatan resmi, maka aku sama sekali tidak boleh menyentuh area yang disebut “jadian” alias “pacaran”. Aku harus menjaganya, bahkan dari diriku sendiri. Aku lebih suka mengamati dari jauh, seperti yang kulakukan selama ini. I'll keep my eye on you.
Lagipula, memangnya aku ini siapa? Haha, aku hanya makhluk introvert pemimpi, absurd, tidak jelas, yang bahkan tidak punya apapun untuk kubanggakan. Tidak seperti laki-laki diluar sana yang punya banyak hal untuk dibanggakan. Aku cuma seorang loner wolf. Aku bukanlah tipe pria romantis dan bukanlah tipe pria yang tahu bagaimana caranya berhadapan terhadap perempuan. Aku tidak pernah mempersiapkan diriku untuk berhadapan dengan yang namanya perasaan. Haha, tentu saja aku ini bukan contoh pria idaman karena aku sama sekali bukan seperti laki-laki diluar sana. Aku aneh.
Namun  saat ini, aku sudah begitu tertarik pada orang itu. Benar aku sayang, tapi aku tak bisa mengungkapkan/menerjemahkannya keluar dari diriku. Aku hanya membiarkan tindakanku keluar secara natural. Biarkan saja mengalir. Aku hanya melakukan apa yang menurutku mampu kulakukan dan yang menurutku harus kulakukan. Aku adalah orang aneh, berbeda. Maka dengan cara yang berbeda pulalah aku mewujudkan bagaimana aku peduli, dengan caraku sendiri. Namun percayalah, sama sekali tidak unsur-unsur kekejaman di dalamnya, hahaha.
Well, jikalau nanti aku ditakdirkan tidak bisa bersama dirinya selamanya, aku tidak menyesal. Perempuan baik diperuntukkan kepada laki-laki baik. Aku tahu diriku ini seperti apa. Bagiku adalah hal luar biasa jika bertemu dengan orang seperti dirinya. Percayalah, orang seperti itu diciptakan sangat jarang. Setidaknya setiap kali bertemu, aku selalu bicara seperti ini di dalam hati, “Terima kasih Ya Allah, aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang seperti ini. Terima kasih ya Allah, setidaknya aku selalu bisa mengenang ibuku dalam kebahagian. Tolong jaga dia, karena dunia ini kekurangan orang-orang baik”. Haha, namun jika ditakdirkan bersamaku, mungkin disatu sisi aku merasa bahagia dan disatu sisi aku akan merasa kasihan. Kenapa bahagia? Mungkin hal ini tak perlu lagi kuperjelas. Lalu kenapa kasihan? Haha, ya bayangkan saja seorang putri cantik baik hati ternyata berpasangan dengan makhluk buas sepertiku. Temanku bilang itu namanya Beauty and The Beast, hahaha. (Hei, ini terlalu jauh. Malah sampai pernikahan segala. Umurku kan tidak ada yang menjamin panjang lama, hahaha. Tapi ya aku hanya menyampaikan mengenai kemungkinan. Bukankah kemungkinan selalu bisa menjangkau daerah manapun?).

Begitulah. Mungkin kalimat-kalimat ini yang bisa kujadikan sebagai alasan kenapa aku si robot rusak yang tak kenal dengan perasaan cinta tiba-tiba mengalami kerusakan sistem yang patut ditanggulangi.

Tulisan ini lebay? Berlebihan? Ada unsur gombalnya?
Well, aku hanya menyampaikan apa yang kupikirkan dan yang kurasa. Cukup sulit bagi orang bertipe Introvert Thinking untuk membuat kalimat-kalimat seperti ini.

Padang Panjang.
16Juli2015.

 Saat sistem otakku bekerja sendiri dan memikirkanmu lagi.

Komentar