Absurd

"Benar kata orang. Hal-hal mengenai cinta atau perasaan itu aneh, kalau tidak bisa dikatakan unik".

Aku membaca kalimat itu beberapa tahun yang lalu. Aku maklumi hal itu. Dan sepanjang hidupku sebelumnya aku hanya menganggap jika hal itu terjadi pada dunia orang nomal, bukan pada dunia orang aneh bin gila sepertiku.

Tapi ternyata anggapanku salah, haha.

Sebenarnya, dalam diriku yang entah kenapa macam alien ini, masih tersisa unsur-unsur manusia. Terutama untuk bagian emosional. Namun persentasenya sedikit sekali. Kenapa aku bisa bilang begitu?

Seperti dalam beberapa tulisanku sebelumnya, aku sudah mengatakan jika aku adalah makhluk dingin. Aku punya perasaan hanya untuk orang-orang tertentu saja. Selain dari itu aku biasanya akan memandang mereka tak lebih dari makhluk vertebrata yang punya urusan sendiri-sendiri. Aku adalah aku dan tak ada keterkaitannya dengan mereka. Urusan perasaan adalah urusan dari kesekian dalam prioritas hidupku. Bahkan aku pernah menganggap perasaan adalah kutukan bagiku, hanya sampah yang tidak kubutuhkan dan hanya mengganggu hidupku. Namun nyatanya sekarang justru aku yang dikutuk. Aku dibenamkan dalam kutukan sampai tak bisa keluar.

Pertemuanku dengan perempuan itu mengubah segalanya.

Dia memberikan warna baru. Dia mengubahku. Membuatku melakukan hal-hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Menbuatku dari robot dingin tak berperasaan menjadi manusia yang mudah tertawa dan menerima keberadaan orang lain. Jujur, belum pernah ada orang yang mampu melakukan hal ini selain orang tua dan saudara-saudaraku. Di angkatanku, dialah perempuan terakhir yang kutahu namanya (aku baru sadar akan keberadaannya ketika sudah semester 3, parah sekali hahaha), tapi justru dia yang memberikan dampak paling besar. Aneh bukan?

Dan akhirnya otak dan hatiku sepakat jika aku memang menyayangi orang itu. Begitu mencintainya hingga aku sendiri tak mengerti kenapa aku bisa begitu. Aneh. Logikaku tak bisa menjelaskan, tapi dia memiliki semua yang aku cari. Orang seperti dia ini kuanggap hanya ada dalam imajinasi liarku sebelumnya, hanya fiksi yang tak bisa kutemukan dalam realita. Tetapi ternyata kini dia ada dihadapanku, berbicara, tertawa, bingung, sedih, yang membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Membuatku selalu memikirkannya, memperhatikannya, mengkhawatirkannya. Sebelumnya aku tak pernah sampai peduli seperti ini kepada orang lain. Tapi aku ingin menjaganya lebih dari aku menjaga diriku sendiri. Ingin membuatnya bahagia walau aku harus mengabaikan kepentinganku. Hingga detik ini, aku yakin kalau aku mencintainya jauh hingga dasar hatiku dan terus bertambah dari waktu ke waktu.

Konon, cinta itu butuh pengorbanan. 
Kau tahu apa yang sudah kukorbankan? Hidupku. Masa depanku.

Walau sudah jatuh jauh menyayanginya, aku tetaplah aku. Aku masih punya perseteruan dengan yang namanya perasaan. Otak dan hatiku masih punya perbedaan paham. Hingga akhirnya aku mengambil jalan tengah, yaitu aku akan menjadikan ini kisah cintaku yang terakhir. Tak akan lagi aku mencari. Cukup satu perempuan itu saja yang ada di dalam hatiku.

"Kau bodoh. Tak cuma satu perempuan itu yang hidup di atas bumi ini", logikaku menentang.

"Ya, kau benar. Tapi apa ada lagi yang serupa dengannya? Apa ada lagi yang benar-benar seperti dia? Aku sungguh yakin tak akan ada lagi yang seperti ini".

Demikianlah hidupku yang aneh ini bertambah absurd. Hingga akhirnya aku berjanji pada diriku sendiri seperti ini: Jika aku gagal dalam perjalananku ini, aku akan berhenti mencari yang lain. Biarkan aku mundur dari dunia yang berbau perasaan. Aku akan duduk disini dan menjaga satu rasa yang telah ada. Karena hanya rasa inilah yang menenangkanku, mendamaikan hatiku. Perasaan-perasaan dan janji sialan ini membuatku menambah resolusi hidupku satu lagi. Aih, apa pula itu resolusi hidup? Yaitu semacam kemungkinan-kemungkinan yang akan kutempuh di hidupku di masa yang akan datang. Setidaknya aku punya 3 kemungkinan jalan yang akan kujalani nantinya.

- Aku akan hidup normal, memiliki pendamping (perempuan itu), bekerja layaknya manusia diluar sana, beranak, mendidik anak-anakku menjadi superhero dan menghabiskan hari-hariku sesuai dengan hakikatku sebagai manusia.

- Aku akan hidup sendiri tanpa pendamping. Aku akan bekerja. Punya rumah sendiri dan hanya aku dan beberapa ekor kucing isinya. Hingga nanti kalau aku mati hanya akan diketahui kucing-kucingku.

- Aku akan mengembara. Hidup di alam liar seperti Christopher McCandless di film Into The Wild. Lalu aku akan mati diluar sana. Sendirian.

Tapi aku sedikit takut, karena kemungkinan terbesar justru untuk pilihan dua dan tiga, haha.

Sebagian orang akan menganggapku seorang bodoh yang naif. Idealis tak berotak. Lalu sebagian akan mencaciku tak bisa membedakan mana cerita film dengan realita kehidupan. Aku tak peduli. Bagiku janji adalah janji dan perasaan bukanlah barang main-main. Aku akan tunjukkan apa itu komitmen dan keras kepala. Dan akan aku tunjukkan bahwa manusia yang tetap hidup menjaga rasa cinta pada orang yang sama sampai dia mati itu benar-benar ada. Orang yang tidak menikah sepanjang hidupnya bukanlah hal aneh bagiku selama dia punya alasan yang kuat untuk bertahan dalam kesendirian. Justru aku lebih menghargai orang-orang yang rela tersiksa demi mempertahankan rasa yang dia jaga dan percaya daripada mereka yang gonta ganti hati ibarat mengganti sikat gigi. Hatimu diciptakan satu, maka sepatutnya isinya pun satu pula.

Yah, begitulah. Absurd sekali. Tiba-tiba aku menulis segini panjang soal perasaanku. Haha. Yaa, aku hanya tidak bisa menahan apa yang kupikir dan yang kurasa. Lebih baik aku tuliskan disini. Aku juga lebih suka berkomunikasi lewat tulisan daripada secara langsung yang lebih melelahkan. Beruntung jika ada yang membaca. Siapa tahu kalian bisa mengetahui bahwa aku tidaklah bohong. Semua yang tertulis disini adalah kebenaran, walaupun kelihatannya terlalu mengawang. Setidaknya lewat inilah aku berbagi cerita. Tentang sebagian hidupku, tentang perasaanku yang tak tertanggungkan pada perempuan itu.

"Lalu siapa sebenarnya perempuan itu hingga kau jatuh cinta sedemikian dalamnya kepadanya, Kawan?", pria dalam cermin itu bertanya.

"Aku tak akan menyebut nama. Sebagian isi dunia ini sudah tahu siapa orangnya. Aku hanya akan menyebut inisialnya saja. L."

Begitulah, Kawan. Sungguh aneh sekali. Fakta memang kadang lebih gila daripada fiksi. Robot dingin tak berperasaan pun bisa takluk sedemikian rupa. Ah ya, aku punya sedikit tulisan untuk dia. Mungkin tak ada salahnya jika kuabadikan lewat tulisan di blog ini. Jika nanti aku mati, dunia tetap menyimpannya.


Teruntuk Nona L yang mungkin sekarang sedang sibuk sekali...

Aku tahu kau tidak akan membaca tulisanku ini. Tapi tak ada salahnya jika kutuliskan sebagian kata-kata yang hendak kukatakan padamu sejak lama. Aku hanya berpikir, jika nanti aku tak punya banyak waktu banyak di dunia ini, aku tak sempat mengeluarkan kata-kata ini dari otakku. Haha.

Tahukah engkau bahwa diantara duniamu yang luas ini, ada sesosok makhluk yang punya rasa begitu besar padamu? Aku yakin kau menyadarinya. Karena aku tahu apa-apa saja yang sudah dilakukan makhluk itu agar kau mengerti. Kau pun pasti menyadari lewat kalimat-kalimat yang disampaikan teman-temanmu. Aku tahu kau mengerti, dan aku pun tahu kalau kau tak peduli.

Tak mengapa. Tenang, aku sama sekali tak frustasi dalam penantian panjang dan usaha yang seakan membentur tembok kokoh ini. Aku sudah tahu hal itu sejak awal. Cukup memberikan efek memang, tapi aku sudah mempersiapkan untuk menghadapi hal itu dan tentunya aku harus bertahan.

Aku memang keberadaan yang menyedihkan. Petarung colossuem yang hanya bertangan kosong dan tameng kayu untuk menghadapi lawan-lawan bersenjata canggih dalam kompetisi memperebutkan hatimu. Yang membuatku bisa bertahan hanya semangatku, senyummu, dan rasa percayaku akan segala kemungkinan.

Tak mengapa kau tak melihat. Biarlah, walaupun kau sengaja menutup mata. Setidaknya kau tahu jika bahkan makhluk buruk seperti inipun  bisa menyayangimu. Tak mengapa kau menganggapku berlebihan atau menyebalkan, setidaknya aku sudah mencoba mewujudkan rasa yang ada dalam diriku ini. Sebenarnya aku selalu berharap aku bisa memenangkan kompetisi ini, tapi mungkin saja aku hanya akan hidup dalam angan-anganku. Aku tak bisa mundur, hanya bisa maju dan menemukan akhir.

Teruslah berjalan menuju kebahagiaan dan kesuksesanmu. Ingin aku mendampingi dan berjalan di sampingmu. Tapi apakah kau membutuhkanku disana? Apakah kau mau menerima keberadaanku? Entahlah. Untuk sekarang dan ke depan, pilihan yang aku punya hanyalah selalu mengamati dan menjagamu dari sisi gelap ini. Sampai waktuku habis.


Dariku, makhluk kegelapan yang menjaga rasanya hingga akhir waktunya nanti.
Yang selalu berharap bisa bersamamu selamanya.


Begitulah. Percakapan kita malam ini berakhir. 
Absurd memang. 

Kamar. 08012016. 
Disaat kepala masih terasa pusing setelah dilabrak tugas.



Komentar