About PLANOLOGI versi 1.0

Tidak pernah kupikirkan, tapi ini yang terbaik menurut Tuhan.


Aku adalah lelaki yang sejak lahir punya keterkaitan yang aneh dengan alam. Aku (ini menurutku) sepertinya punya jalinan tak terlihat dengan alam sekitarku. Ketertarikanku untuk bergumul dengan alam sangatlah besar. Barangkali karena faktor tempat dimana aku tinggal.

Aku lahir di suatu daerah yang menarik secara geologis. Aku lahir dan tinggal di tanah Minang, suatu daerah di Indonesia ini yang dilalui Sesar Besar Sumatera. Aku menetap di busur belakang dari zona subduksi antara lempeng Hindia-Australia dan Eurasia sehingga ada aktivitas vulkanik disana. Alhasil ada tiga gunung yang mengelilingi tempat asalku. Marapi, Singgalang, dan Tandikek. Marapi dan Tandikek masih aktif, Singgalang sedang tidur nyenyak. Adapun Marapi adalah gunung sakral bagi masyarakat Minangkabau. Menurut tambo (legenda/kisah turun-temurun dalam adat), manusia di Minangkabau berasal dari pengembara yang mendarat di puncak gunung Marapi. Ketika itu daratan masih tertutup air, yang terlihat hanyalah puncak-puncak gunung yang tinggi.

Gunung Marapi dari Padang Panjang. 

Tempat asalku adalah dataran tinggi yang jauh dari polusi. Langit yang cerah dikala malam dan siang adalah pemandagan yang sering kulihat dan kutunggu. Hal ini selalu membuatku memandang gunung, lembah, bukit, pepohonan, sawah dan ladang ketika siang hari, dan menatap langit, bintang dan bulan di kala malam. Semua diiringi dengan proses berpikir "bagaimana kehidupan mereka berlangsung?" , "apa yang membuat mereka begitu megah?"


Dari kecil sebelum masuk sekolah aku sudah bermimpi, aku ingin menjadi seorang yang meneliti alam ini dari langit sampai perut bumi lalu menemukan hikmah dan membuktikan kalimat-kalimat Tuhan di Al-Qur'an. Kemudian di sekolah dasar aku mulai kenal kata itu. Geologi.


Sejak aku mengenal kata itu, aku semakin mencintai geografi fisik. Referensi tentang hal berbau kebumian dari tingkat anak-anak sampai bangku kuliah selalu menarik perhatianku. Semakin aku membaca, semakin aku jatuh cinta. Sejak sekolah dasar mimpi itu sudah kupatri. Aku tidak punya keinginan lain.

Lalu semua berlanjut sampai SMA. Ketika masa-masa pemilihan jurusan untuk perguruan tinggi aku mulai bingung untuk memilih. Geologi sudah pasti berada diujung tombak. Pilihan lainnya membuatku galau. Aku menginginkan pekerjaan yang berbau lapangan. Namun bisa bekerja dimana pun. Lalu salah satu keluargaku menganjurkan untuk mengambil Teknik Planologi. Alasannya jurusan ini masih jarang lulusannya. Lalu pekerjaannya bukan sembarang, menata dan mengembangkan suatu kota dan wilayah. Aku pun tertarik. Apalagi melihat kondisi kota dan wilayah di Indonesia. Kondisi jalanan yang selalu penuh dengan kendaraan pribadi, hutan yang dialihfungsikan, membuatku tertarik memilih jurusan ini. Apalagi dari referensi yang kubaca, jurusan ini mempelajari hitungan seperti fisika, matematika, juga ilmu sosial, rasanya tidak ada jurusan di fakultas teknik yang mempunyai cakupan ilmu seluas ini. Namun aku menempatkan ini di pilihan kedua. Teknik geologi selalu di depan, tak pernah kualihkan dan kugantikan.

Di SNMPTN undangan, aku gagal. Universitas Gadjah Mada belum mau menerima orang dengan kemampuan sepertiku. Aku masih terlalu rendah untuk belajar di sana. Ditambah dengan persaingan yang ketat karena pendaftar di UGM termasuk yang terbesar. Alhasil aku banting stir ke Universitas Diponegoro, Semarang. Pilihanku tetap sama dengan sebelumnya.

Namun, di ujian tertulis, aku lulus di pilihan keduaku. Sebagian hatiku senang, sebagian lain kecewa. Mimpi lama yang telah kupelihara tak bisa kuwujudkan. Ingin mengulang aku tak mau. Tak ada yang menjual umur di dunia ini. Lagipula ayah ibuku sedang kesusahan waktu itu. Ibuku yang sedang sakit keras, tak alang kepalang gembira mendengar aku lulus. Senyum ibu membuatku mencoba memantapkan hati untuk memilih jurusan ini.

Singkat cerita aku sudah mulai berkuliah di jurusan Planologi. Semester pertama aku masih galau. Selalu bertanya kenapa aku masuk jurusan ini. Apalagi gedung jurusan Geologi bersebelahan dengan jurusanku. Membuat hatiku semakin gamang. Mata kuliah di semester satu lebih mirip di FISIP daripada teknik. Aku lebih suka menghitung, mengukur, menganalisa, dan berpetualang. Bahkan aku sempat ingin berhenti kuliah. Semangatku turun. Meninggalnya ibuku membuat semangatku terus turun. Hal itu berlanjut ke semester dua.

Di semester dua, aku mulai menemukan hal-hal menarik. Mata kuliah yang berbau teknik mulai membangkitkan semangat lama ketika aku masih di bangku MTsN dan SMA. Namun sekeping hatiku tetap memberontak. Namun disinilah aku mulai mencoba menutup yang sekeping ini. 

Aku terus memotivasi diriku sendiri dengan mencari sisi positif jurusan ini. Planologi adalah jurusan yang memikirkan nasib rakyat. Menata dan mengembangkan wilayah serta kota adalah hal sulit. Besar jasanya karena manfaatnya untuk banyak orang. Ada banyak hal yang bisa dipelajari karena bidang ilmu yang luas. Dan aku terus berusaha agar menerima jalan yang telah dipilihkan untukku. Aku mencoba untuk kembali menjadi manusia yang bersyukur. Memang, selama ini aku telah menjadi manusia yang tidak mau menerima apa yang disuguhkan padaku. 

Aku ingat seseorang pernah berkata ,"Syukurilah apa yang telah diberikan Tuhan padamu, hal sekecil apapun itu. Ingat, Tuhan tidak pernah memberikan yang buruk kepada umat-Nya. Sesuatu menjadi buruk karena pandanganmu yang kabur, bukan salah objeknya. Tuhan tahu yang terbaik untukmu karena hal yang sangat kau inginkan bisa jadi membuatmu menjadi buruk. Tuhan Mengetahui masa depanmu tapi kau tidak. Percayalah pada-Nya. Percayalah jika Tuhan telah memberikan jalan yang baik dan menyiapkan hal yang indah di akhir" 



Komentar