Mendaki gunung adalah salah satu hal terindah yang pernah ada. Mengasyikkan, menantang, dan selalu memberikan hal baru pada dirimu. Sensasi ketika kau berada di puncak mampu mengalahkan segalanya. Menguji seberapa batas kemampuan dirimu, mengagumi betapa luar biasanya ciptaan Tuhan dan menyadari betapa kecilnya dirimu dibanding seluruh dunia. Bagiku pribadi, puncak gunung adalah salah satu tempat yang paling kusukai selain kamarku sendiri.
Pada kesempatan kali ini, saya dan beberapa teman melakukan perjalanan untuk menaklukan gunung Andong di Jawa Tengah. Gunung Andong berketinggian 1726 meter dan terletak di utara gunung Merbabu. Gunung memiliki trek yang tidak sulit sehingga tidak terlalu sulit bila ada pendaki pemula.
Kami bertolak dari kota Semarang sekitar pukul 23.00 WIB tanggal 24 April 2015. Perjalanan ke Andong sekitar 2,5 jam menggunakan motor. Kami melewati Ungaran, terus ke Salatiga dan berbelok ke Magelang, tepatnya di dusun Pendem, kecamatan Ngablak. Lokasi ini kami jadikan basecamp sebelum naik ke puncak Alap-Alap yang menjadi puncak tertinggi gunung Andong. Sampai di basecamp, kami beristirahat sejenak dan melakukan persiapan sebelum pendakian. Di sini kami juga melakukan regsitrasi di pos sebelum pendakian.
Kemudian pendakian dimulai pukul 00.20. Kami mengambil jalur selatan yang lebih mudah karena ada beberapa anggota rombongan yang tidak kuat apabila melewati jalur utara yang cukup terjal. Kami berjalan beururutan dan kebetulan saya yang paling depan. Walau belum pernah ke sini, jalan yang dilalui sudah jelas karena ada beberapa yang sudah dibuat trap-trap tangga. Insya Allah tidak akan sesat.
Selama perjalanan, saya berjalan semakin jauh meninggalkan rombongan. Hahaha, bukan egois atau kenapa, tapi memang saya tidak bisa berjalan lambat karena itu justru akan membuat tubuh saya merasa lebih cepat lelah. Apalagi saya besar dengan lingkungan seperti trek pendakian sehingga sudah biasa. Sebagian teman yang sudah mengenal saya juga maklum.
Selama diperjalanan, kabut tebal pun turun sehingga jarak pandang terbatas. Cuaca yang sedari tadi mendung dan sedikit gerimis membuat jalan cukup licin. Saya juga sekali-sekali berhenti untuk memastikan saya dan teman-teman tidak terlalu jauh terpisah. Kurang lebih 2 jam saya sampai di puncak Alap-Alap sembari menunggu teman-teman yang lainnya.
Kemudian kami pun mulai memasang tenda di malam yang berkabut. Angin cukup kencang waktu itu sehingga kami harus cepat-cepat mendirikan tenda. Saat itu cukup sulit mencari tempat karena pendaki gunung Andong yang cukup banyak. Akhirnya tenda dapat berdiri dan kami masuk ke tenda. Cewek dan cowok dipisah. Dan kami 10 orang cowok berkumpul dalam 1 tenda, hahaha. Bercengkarama, saling ribut, makan-makan dan nyanyi-nyanyi gak jelas.
Pukul 5 saya keluar tenda karena ingin mengeksplorasi lebih jauh sembari menunggu matahri terbit. Kabut masih tebal namun dengan adanya senter kepala yang cukup terang tidak menyulitkan saya. Perlahan kabut mulai menipis dan pemandangan kelap kelip lampu mulai tersibak diantara kabut. Indah sekali.
menjelang pukul 6 mulai terlihat cahaya di timur. Perlahan-lahan gunung-gunung yang ada di sekitar Andong mulai terlihat. Mulai dari yang terjauh gunung Lawu di timur, gunung Merbabu dan Merapi, gunung Ungaran, gunung Telomoyo, dan tiga serangkai Sumbing Sindoro Prau. Sebagian dataran tinggi Dieng juga terlihat. Sungguh indah dan megah. Pemandangan dari puncak Andong memang luar biasa walaupun ketinggiannya tidak seberapa. Begitupun dengan pemandangan pemukiman yang diselingi sawah-sawah di kaki gunung. Sayang, cuaca saat itu kurang bersahabat. Banyak gunung-gunung yang diselimuti awan, terutama Sumbing, Sindoro, dan Prau. Namun awan yang membuncah membuat diri berada di antara lautan awan. Tak lupa kamera dari teman-teman mengabadikan objek-objek di depan mata.
Pukul setengah 10 kami mulai berkemas, melipat tenda dan membereskan barang-barang beserta sampah. Kemudian tak lupa diiringi dengan foto-foto bersama. Kemudian kami mulai turun. Jalan yang semalam tidak terlihat karena kabut terpampang jelas di depan mata. Tidak adanya kabut membuat mata menjadi tidak jemu melihat pemandangan asri yang ada. Lagi-lagi dalam perjalanan pulang saya mendahului yang lain, hahaha. Saya hanya butuh 25 menit untuk turun ke bawah sementara yang lain memakan waktu 1 jam.
Kami beristirahat lagi di basecamp untuk memulihkan tenaga sebelum kembali ke kota Semarang. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan bersyukur sekali masih diberi kesempatan melihat indahnya alam.
Jaga selalu alam kita karena tak ada yang mampu membuatnya indah dua kali. Jaga sampai akhir waktu nanti. Ayo mendaki gunung.
Kamar Kos. Larut malam. 260415 dinihari.
Letih sisa-sisa pendakian masih ada.




Komentar
Posting Komentar