Was it good that i was born? Apakah aku pantas dilahirkan?
Pertanyaan ini mulai membelenggu kepalaku beberapa tahun terakhir ini. Aku tidak tahu kenapa. Pencarian jati diri yang kulakukan membawaku menemukan pertanyaan ini dan aku merasa cukup sulit menemukan jawabannya.
Aku ini apa? Kenapa aku diciptakan oleh Tuhan? Kenapa aku pantas menginjakkan kakiku disini dan bergaul dengan manusia-manusia lain? Kenapa aku harus hadir diantara keluargaku sementara mereka mengharapkan sesuatu yang lebih baik? Kalau kupikir-pikir kembali, aku bukanlah apa-apa dan tidak pernah menjadi apa-apa. Aku hanya menjadi sampah. Sejak dulu.
Aku sering merasa kasihan. Aku merasa kasihan pada ibuku yang susah payah melahirkanku tapi harus melihat anaknya menjadi sampah seperti ini. Aku sering merasa kasihan dengan ayahku yang sudah berharap banyak aku akan menjadi orang besar tapi justru melihat aku seperti ini. Aku hanya bisa berusaha membuatnya bahagia dengan nilai-nilai yang kuperoleh. Aku merasa kasihan dengan kakak-kakakku yang berharap aku akan melampaui mereka, tapi ternyata yang mereka punya hanya adik tak berguna seperti ini. Aku merasa kasihan pada bumi ini yang harus menampung orang tak berguna sepertiku ini. Dan aku merasa kasihan pada Tuhanku yang dulu mungkin lupa atau malah salah menciptakanku.
Aku pernah punya mimpi. Banyak sekali. Semuanya hangus dimakan waktu. Aku lebih kepada membual. Bukannya aku tidak pernah berusaha. namun seringkali usahaku kandas padahal aku sudah berusaha dengan susah payah. Aku telah berusaha selalu dekat dengan Tuhanku tapi mimpiku tak pernah terwujud. Apa gunanya aku hidup kalau begitu?
Saat orang lain mengukir prestasi, aku hanya bisa meringkuk dikamar. Bukannya aku tidak pernah mencoba, tapi jalanku putus. Aku selalu dibilang sebagai orang cerdas, punya banyak kemampuan, dan aku hanya berkata itu semua omong kosong. Aku tahu itu semua cuma kalimat-kalimat untuk membesarkan hati.
Aku tak pernah bisa seperti orang lain. Padahal dari dulu aku selalu berharap bisa berguna, bisa membuat senyum di wajah ayahku dan membahagiakan ibuku yang sudah di alam sana, membuat sesuatu yang positif dan dikenang orang banyak, tapi aku tidak bisa. Sementara orang lain bertabur gemerlap kesuksean, aku tenggelam bersama kegelapan. Aku sudah mencoba berbaur, tapi keberadaanku seperti tidak diterima. Usahaku seakan kabut yang tak ada artinya. Dunia ini menolakku. Aku keberadaan yang tidak ada. Bukan apa-apa dan tidak pernah menjadi apa-apa.
Aku frustasi? Ya Aku tak menyangkal hal tersebut. Aku frustasi dengan keberadaanku yang tidak ada artinya ini. Aku fustasi dengan keadaanku yang hanya bisa menyusahkan tanpa bisa memudahkan.
Aku tidak tahu, apakah tujuan penciptaanku ini. Aku tidak tahu, kenapa aku harus ada. Akan lebih baik jika dahulu aku hanya segenggam pasir atau serumpun daun yang lenyap dilamun air atau dimakan hewan. Dengan begitu aku masih bisa dianggap berguna.
Apakah aku pantas dilahirkan?
Tuhan, aku butuh jawaban.
Kamar. 180415.23:00.
Selingan dalam mengerjakan rutinitas.
Komentar
Posting Komentar