Setelah pendakian pertama saya di Pulau Jawa sukses di gunung Andong, pada kesempatan berikutnya saya mulai merambah ke selatan, yakni gunung Merbabu. Pendakian kali ini benar-benar berkesan. Di sela-sela padatnya tugas dan kurangnya istirahat, saya dan beberapa teman masih menyempatkan diri untuk ikut serta dalam pendakian ini. Maklumlah, jarang-jarang ada kesempatan emas seperti ini. Apalagi dengan adanya long weekend dan cuaca yang bagus luar biasa, hal ini semakin membuat semangat saya bertambah untuk menaklukkan gunung setinggi 3142 meter ini.
Perjalanan dimulai dari Tembalang, Semarang. Setelah istirahat singkat selama 2 jam, saya bangun pukul setengah 3 sore tanggal 15 Mei 2015 itu. Setelah melakukan persiapan, kami rombongan 14 orang berangkat menuju gunung Merbabu. Rencananya kami akan naik melalui jalur Selo, Boyolali. Jalur ini cukup landai dengan view yang luar biasa namun jarak tempuh yang lebih lama dibanding jalur Kopeng, Salatiga yang punya jalur lebih pendek namun lebih berbahaya. kami mempertimbangkan anggota rombongan yang perempuan sehingga lebih memilih jalur Selo.
Sampai di Boyolali sekitar pukul 10 malam. Kami istirahat, makan, dan mendirikan shalat bagi yang beragama Islam. Setelah sitirahat kami mulai menuju basecamp. Basecamp kami bernama Basecamp Pak Parman. Setelah registrasi, pukul 11 malam kami berfoto bersama sebelum mendaki dan mulai bergerak naik.
Perjalanan menuju pos satu boleh dibilang masih belum berat. Medan yang ada belum terlalu menyusahkan. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah tanah yang agak licin. Kami diuntungkan dengan kondisi cuaca yang sangat mendukung. Malam yang dingin dihiasi jutaan bintang di langit malam. Benar-benar malam yang sempurna.
Kami sampai di pos 1 sekitar pukul setengah 1. Disana kami beristirahat sejenak. Setelah dirasa cukup, kami mulai bergerak menuju pos 2. Selama perjalanan ternyata salah seorang teman mengalami kram. Bukannya langsung ditolong, kami malah menertawakan. Hahaha, cukuplah untuk menjadi hiburan dimalam itu. Setelah dirasa kuat, kami meneruskan perjalan menuju pos 2. Mulai dari sini medan yang ada mulai menanjak naik. Kami beristirahat sejenak di pos 2 bayangan sebelum meneruskan lagi ke pos 2 dan 3.
Perjalanan menuju pos 3 benar-benar melelahkan. Pos ini kami jadikan sebagai tempat mendirikan tenda. Beberapa orang anggota yang masih kuat, meneruskan perjalanan terlebih dahulu supaya mendirikan tenda terlebih dahulu. Lainnya dibelakang sambil menolong anggota yang keletihan atau kekurangan penerangan. Kami sampai di pos 3 sekitar pukul 3 pagi. Setelah tenda berdiri, kami beristrahat di tenda masing-masing.
Pukul 5 pagi saya terbangun karena dari tenda saya mendengar suara berisik dan kilatan kamera. Saya penasaran dengan apa yang terjadi diluar. Dugaan saya pemandangan matahri terbit telah dimulai. Saya langsung keluar sambil mengambil kamera, Dan ternyata dugaan saya benar. Sunrise telah dimulai. Masya Allah, luar biasa indahnya. Semburat cahaya matahari di garis langit ditambah pemandangan gunung Lawu yang sendirian di timur sana.
Saya bangunkan teman-teman dan mulai mengabadikan momen yang ada. Hamparan sabana yang ada, langit yang bersih, dan hembusan angin membuat suasana pagi itu benar-benar sempurna. Sungguh luar biasa kuasa Tuhan yang telah menciptakan itu semua. Pemandangan gunung Merapi di sebelah selatan plus lautan awan tipis pun semakin membuat pagi itu menjadi begitu mempesona.
Setelah puas mengabadikan momen, kami meneruskan istirahat. Tujuannya untuk menghemat tenaga untuk "summit attack" siang nanti. Tepat pukul 11, kami mulai bergerak menuju puncak. Tantangan langsung menghadang. Menurut anggota kami yang sudah pernah mendaki Merbabu, kami harus melewati 3 tanjakan terjal dan 2 padang sabana agar bisa menginjakkan kaki di puncak Merbabu. Bismillah. Tanjakan pertama cukup sulit. Medannya hampir tegak dan tanahnya bercampur pasir sehingga cukup licin. Untung sudah ada jalur-jalur yang mengurangi kesulitan dan akar-akar tanaman yang bisa dijadikan pegangan.
Mulai masuk ke padang sabana 1, kami beristirahat dulu sebelum meneruskan ke sabana 2. Disini kami sempatkan berfoto.bersama dahulu. Kawasan padang sabana ini sangat indah. Selain pos 3, tempat ini dijadikan tempat favorit untuk berkemah. Perjalanan kami lanjutkan hingga sabana 2 dan akhirnya menemui tanjakan terakhir sebelum menjejakkan kaki di puncak Kentheng Songo.
Perjalanan di tanjakan terakhir ini melelahkan karena tanjakannya terjal dan panjang. Apalagi kami kekurangan air. Alhasil kami sering berhenti untuk memulihkan stamina. Kabut mulai merangkak naik sehingga istirahat sambil cuci mata pun menjadi tidak terlaksana. Kami meneruskan perjalanan hingga menemui jalan setapak yang nantinya akan mengarah ke puncak Kentheng Songo.
Akhirnya kami tiba dipertigaan antara puncak Syarif dan Puncak Kentheng Songo. Di sini beberapa teman ada yang mulai berfoto dan ada yang beristirahat. Puas berfoto dan istirahat kami bergerak hingga akhirnya sampai ke puncak Kentheng Songo. Sayang, kabut menutupi pandangan ke arah utara dan barat sehingga tidak tampak pemandangan gunung Sumbing, Sindoro, Ungaran, Prau, dan Slamet. Tidak apalah. Setidaknya kami sampai di puncak tertinggi Merbabu dan melihat lautan awan di timur. Teman-teman mulai ramai mengabadikan foto. Saya cukuplah mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan.
Puas diatas, kami mulai bergerak turun pukul 4 sore karena tidak ingin kemalaman di perjalanan turun. Oh ya, kami sampai di puncak sekitar pukul 2. Jadi memakan waktu lebih kurang 3 jam dari pos 3. Kami dihadiahi pemandangan luar biasa ketika turun. Cahaya matahari sore, lautan awan, langit biru, dan gunung Merapi yang malu-malu membuat perjalanan turun menjadi menyenangkan. Namun yang patut diperhatikan adalah fokus pada jalan. Oleh karena medannya yang terjal, perjalanan turun dapat menjadi horor bila tidak berhati-hati. Kami mememui pendaki yang kakinya patah karena tergelincir ketika turun. Sampai di sabana 2 kami beristirahat sejenak. Sebagian anggota ada yang meneruskan perjalanan menuju tenda karena keletihan.
Setelah sampai di tenda, kami beristirahat dulu. Rencananya kami balik ke basecamp sekitar pukul 8 malam. Pukul 7 malam, kami mulai beres-beres. Kami mulai melipat tenda, memungut sampah, dan merapikan barang-barang untuk dimasukkan kembali ke dalam tas. Setelah semua selesai, kami mulai berjalan berombongan menuju basecamp. Perjalanan terasa enteng karena treknya menurun. Namun yang patut diwaspadai adalah lubang-lubang dan jalan yang licin. Perjalanan pulang agak terhambat dengan banyaknya pendaki yang naik Merbabu malam itu. Selain karena libur panjang, sebagian pendaki berasal dari pendaki Merapi yang memutar tujuan karena Merapi ditutup setelah ada insiden pendaki jatuh ke kawah Merapi. Namun perjalanan pulang adalah perjalanan santai, jadi kami tidak terburu-buru.
Sampai di basecamp sekitar pukul setengah sebelas malam. Kami istirahat sejenak. Ada yang mulai tiduran terutama yang perempuan karena mereka semua baru pertama kali mendaki gunung. Hahaha. Pukul 12 malam kami mulai turun ke Semarang dan sampai di Semarang kembali pukul 2 pagi. Wahahaha, benar-benar gila. Namun perjalanan kali ini sungguh berkesan. Seperti biasa, ada perasaan ingin berdiri lagi di puncak gunung, entah dimanapun itu.
Semoga diberi kesempatan lagi. Amiiin.


Komentar
Posting Komentar