Halang Rintang di Gunung Talang

            Akhirnya kesempatan itu tiba. Masa liburan setelah kuliah yang berat membuat saya berancang-ancang sejak lama untuk melarikan diri ini ke salah satu tempat paling nyaman di bumi, yaitu gunung. Hahaha
            Target kali ini adalah gunung Talang yang berada di Kabupaten Solok, provinsi Sumatera Barat. Gunung setinggi 2597 meter ini adalah gunung api tipe stratovulcano yang terakhir meletus tahun 2007. Gunung ini merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di provinsi Sumatera Barat. Kebetulan saya adalah orang Sumatera Barat asli yang tinggal di kota Padang Panjang, sehingga gunung ini saya jadikan target disaat liburan tiba. Kebetulan saya belum pernah mendaki gunung ini. Saya segera menghubungi teman-teman yang bisa diajak mendaki gunung. Kebetulan seorang teman MTsN saya dulu juga berkeinginan yang sama.  Jadilah kami berencana pergi ke sana hari Jum’at tanggal 24 Juli 2015.
            Sebelum mendaki saya mencari berbagai info mengenai jalur pendakian. Jalur pendakian di gunung Talang ada dua. Yakni melewati jalur lama di Bukik Sileh dan jalur baru di Aia Batumbuak. Saya memilih jalur kedua karena disebutkan di sumber yang saya baca bahwa jalur ini lebih mudah dan sengaja dibentuk sendiri oleh pemerintah Kabupaten Solok. Jalu pendakian di Aia Batumbuak medannya lebih ringan daripada jalur lama Bukik Sileh. Selain itu di jalur ini juga telah ada papan penanda dan arah untuk memudahkan dalam pendakian. Jadi saya merekomendasikan jalur baru di Aia Batumbuak ini untuk pendaki pemula atau pendaki yang belum pernah mendaki gunung Talang.
            Perjalanan saya mulai jam 15.00 dari Padang Panjang. Jarak antara kota Padang Panjang menuju Aia Batumbuak saya perkirakan sejauh 70-an km. Saya dan dua orang teman (kami dapat tambahan satu orang anggota) bergerak dengan sepeda motor menuju selatan. Jalur yang kami tempuh adalah Padang Panjang à Ombilin àSingkarak à Sumani à Aripan à Kota Solok à Cupak à Batang Barus àAia Batumbuak. Di perjalanan kami mengelilingi danau Singkarak. Indah sekali. Kebetulan cuaca sangat bersahabat. Jadilah kami menikmati pemandangan sembari menempuh perjalanan menuju gunung Talang. Jalan yang kami tempuh berliku-liku, tipikal jalan di daerah perbukitan dan pegunungan. Namun harap berhati-hati karena lebar jalan yang sempit. Selain itu di sepanjang jalan banyak tikungan tajam dan mobil-mobil besar. 
            Perjalanan ini memakan waktu 3,5 jam. Kami sampai di pos Aia Batumbuak untuk melapor serta memarkirkan motor. Saya menuliskan nama rombongan dan membayar uang registrasi sebesar 35.000 rupiah untuk tiga orang (biaya ini sekalian parkir dan penitipan helm). Setelah melapor kami shalat terlebih dahulu di masjid yang terletak di samping pos. Kemudian melakukan persiapan dan berdoa sebelum mendaki. Pukul 19.15 kami bergerak menuju puncak.
            Medan awal pendakian termasuk landai. Kita akan melewati perkebunan teh yang menghampar luas di kaki Gunung Talang. Cuaca malam itu sangat bersahabat, langit dihiasi bulan dan bintang sehingga kami tak perlu menghidupkan senter. Setiap seratus meter kita akan menemukan tanda dan arah penunjuk menuju puncak. Hal ini dikarenakan jalur ini masih baru. Makin lama jalan mulai menanjak. Tidak terlalu menanjak tapi cukup memakan tenaga. Setelah melewati 10 tanda kita akan memasuki daerah rimba yang di papan penanda ke 10 dinamakan dengan “Pintu Rimbo”. Sebelum memasuki “Pintu Rimbo” ini kita akan menemukan warung kecil yang dikelola penduduk setempat sebagai tempat istirahat pendaki.


(salah satu contoh penanda. Diambil ketika perjalanan turun)

            Begitu memasuki daerah rimba, kami mulai menghidupkan senter. Medannya terus menanjak. Di sepanjang jalan banyak batang kayu yang melintang. Cukup menyulitkan dan tanahnya juga masih lembek. Di beberapa titik ada batang kayu melintang sebesar kerbau yang membuat kami harus ekstra hati-hati. Juga terdapat medan yang mengharuskan kita memanjat dengan memegang kayu-kayu yang ada. Namun ada sedikit hiburan yakni dengan adanya jalur mendatar dan menurun. Hutan yang masih asri membuat perjalanan kali ini semakin mengasyikkan. Sesekali terdengar suara binatang rimba


(Salah satu contoh trek. Diambil ketika perjalanan turun)

            Akhirnya setelah 4 jam berjalan, kami menemukan tempat berkemah. Tempat berkemah di sepanjang jalur ini hanya ada satu yakni di dekat kawah. Maksud di dekat kawah ini adalah karena dari tempat berkemah kita akan langsung melihat kawah dari gunung Talang. Kawah ini letaknya di samping dari tonjolan tubuh gunung yang menjadi bagian puncaknya. Mirip seperti di pos 3 gunung Merbabu sebelum sabana 1 jika melewati jalur Selo. Lokasi kemah berbentuk lapangan dengan sumber air di sudut di jalur menuju puncak. Walau bisa diminum, airnya sedikit berbau belerang. Jadi sangat disarankan untuk memasaknya terlebih dahulu. Selain itu disini juga masih bisa menerima sinyal untuk HP. Saya yang memakai Indosat masih bisa menerima sinyal di sini.
            Saya dan teman beristirahat sejenak melepas lelah setelah mendirikan tenda. Kemudian sekitar pukul 2 pagi kam keluar untuk membuat api unggun di malam yang dingin itu. Awalnya langit sangat cerah, Bima Sakti terlihat jelas di angkasa, membuat malam itu semakin enak untuk dinikmati. Namun sekitar sejam kemudian, kabut mulai menutupi langit dan puncak gunung. Sekitar pukul empat pagi saya kembali ke tenda untuk beristirahat mempersiapkan diri menuju puncak.
            Sekitar pukul setengah enam kami shalat subuh dan bersiap-siap melakukan summit attack. Jalur menuju puncak ternyata menantang. Mirip seperti jalur menuju puncak Merbabu via Selo. Kelihatan dari bawah cukup pendek, tapi ternyata setelah dicoba cukup menguras tenaga. Yang paling berat adalah sebelum menuju Hutan Mati dimana kita dihadapkan pada jalan yang kemiringannya hampir mencapai 80 persen. Setelah melewati ini kita akan menemui kawasan hutan mati. Disebut kawasan hutan mati karena kawasan ini terdiri dari rumput ilalang dan pohon-pohon mati yang hangus dikarenakan letusan gunung Talang tahun 2007.
                          

(trek menuju puncak)



(Kawasan hutan mati Gunung Talang)

            Sesampainya di atas, dua orang teman saya memutuskan untuk beristirahat di bebatuan di dekat puncak. Mereka memilih tidak meneruskan perjalanan menuju puncak. Tempat ini penuh bebatuan dan di belakang kami menganga kawah mati hasil letusan gunung Talang dahulu. Cukup besar kawahnya. Di tempat ini kami mengabadikan momen yang ada. Luar biasa. Samudera diatas awan, lalu suasana dimeriahkan oleh lolongan suara siamang (sejenis kera besar) yang bersahut-sahutan di dalam rimba lebat di pinggang gunung Talang. Suara mereka keras sekali hingga terdengar sampai puncak. Kami bersantai sembari menikmati langit diiringi angin sepoi-sepoi. Sekali lagi, Tuhan luar biasa.






            Setelah puas disini, kami memutuskan untuk turun. Sementara itu saya memutuskan untuk ke puncak sendiri dan meminta teman saya menunggu di hutan mati. Saya harus bisa menuju ke puncak. Bukan untuk gagah-gagahan atau sombong, hanya saja saya ingin menyelesaikan keinginan saya dan menemukan keindahan lain jika diatas puncak.
            Jalan ke puncak lumayan menantang. Jika tidak hati-hati bisa tergelincir dan masuk ke jurang atau ke titik-titik lubang belerang. Sambil terus berusaha dan fokus, saya terus naik menuju puncak. Ternyata disini pemandangannya juga luar biasa. Dari sini tampak danau kembar yakni Danau Di Ateh dan Danau Di Bawah, serta danau Talang. Selain itu juga tampak gunung Kerinci di kejauhan. Sayang sebagian gunung itu tertutup awan. Selain gunung Kerinci, juga kelihatan gunung Tandikek, Singgalang, dan gunung Marapi.



(View dari Gunung Talang dan salah satu titik lubang belerang)

Puas diatas, kami bergerak turun menuju tenda. Rencananya kami beristirahat sejenak sebelum pulang. Perjalanan turun haruslah hati-hati karena seperti yang telah diceritakan diatas, medannya terjal. Jadi jika tidak hati-hati tubuh bisa tergelincir dan maut tantangannya. Sekitar pukul 11.15 kami menyudahi petualangan di atas gunung dan bergerak turun. Perjalanan turun kira-kira setengah dari total waktu ketika naik. Fokus harus tetap dijaga karena ada banyak kayu yang melintang dan tanah yang licin.
Selama perjalanan mendung mulai menggelayut diatas langit. Perlahan tetes air mulai jatuh dari langit. Kami sudah melewati “Pintu Rimbo” dan memasuki kawasan perkebunan. Kami berhenti sejenak di sebuah warung dekat “Pintu Rimbo” sembari menunggu hujan reda. Setelah reda, kami mulai bergerak lagi menuju pos pertama. Niatnya untuk shalat dan membersihkan diri sebelum pulang kembali ke Padang Panjang. Pemandangan kebun teh yang tak kami dapatkan ketika naik, kami lihat ketika perjalan turun ini. Ternyata hujan turun kembali dan kali ini cukup deras.




(Kebun teh yang ditemui selama perjalanan)

            Sesampainya di masjid dekat pos, kami meletakkan barang-barang dan mulai membersihkan diri untuk menunaikan shalat. Setelah beristirahat sekitar satu jam, pukul 15.30 kami bergerak pulang menuju Padang Panjang. Luar biasa, perjalanan kali ini sangat menyenangkan. Bertambah lagi satu pengalaman dan bertambah lagi kecintaan pada tanah air yang luar biasa indah ini. Semoga tetap terjaga keindahannya sampai akhir nanti.


Komentar