Aku melewatkan sebagian besar hidupku dalam kegelapan. Aku terbiasa dengan dinginnya. Mataku telah biasa melihat hitam disekelilingku. Pikiranku mendung. Hingga hatiku dingin, beku, kelam. Selalu seperti itu hingga sampai suatu hari takdir mengharuskanku bertemu dengan cahaya baru yang kiranya mampu menerangi gelap jalanku.
Sejujurnya cahaya terang itu awalnya membutakan mataku. Kegelapan dalam diriku tak biasa dengan hal itu. Tapi aku memilih untuk bertahan dalam jalan ini. Kenapa?
Ada sesuatu yang berbeda yang kurasakan disini. Mungkin dulu pernah aku merasakannya. Dulu, ketika cahaya yang kukenal masih bisa kulihat dengan mataku sendiri. Namun setelah ia lenyap, yang kuingat tak lebih dari gelap, mendung, dan angin dingin. Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan cahaya lagi. Pikiranku hanya memikirkan langkah-langkah apa yang harus kupilih agar bisa meraba-raba jalanku yang gelap.
Cahaya ini meneduhkanku. Ternyata tak terlalu silau sehingga aku tetap bisa bergerak, bahkan lebih leluasa. Mendiamkan iblis yang bersarang di benak dan dadaku. Angin dingin yang kurasakan sebelumnya berganti dengan angin lembut yang menenangkan. Langitku biru kembali.
Tapi, aku yang berjalan di bumi ini, tak tahu sampai kapan langit akan membiarkan cahaya itu menerangi jalanku. Entah kenapa aku mulai merasa takut bila aku harus bertemu kegelapan lagi. Entah kenapa aku mulai merasa bingung, tak tahu harus melangkah jika harus terjerumus dalam lorong kelam itu lagi. Aku hanya tahu, jika langit mengambil cahaya ini lagi, kegelapan yang akan kutemui akan jauh lebih hitam. Tanahku ini akan kering dan mengeluarkan bara. Dan aku yakin kerusakan seperti itu tak akan bisa diperbaiki lagi.
Dan sekarang di sela perjalananku, aku menengadah ke langit dan bertanya,"akankah kau ambil cahaya ini sekali lagi dan kau benamkan lagi aku dalam kegelapan yang lebih hitam dari yang sudah-sudah?". Membayangkannya saja aku tak sanggup.
Komentar
Posting Komentar