Bukanlah manusia namanya jika hanya mengikuti arus dan menyerahkan semua kepada takdir. Kita ini manusia, bukan tai.
Sebagai orang yang beragama, saya percaya akan adanya takdir. Tapi sebagai orang yang berakal, saya paling benci menyerahkan semuanya kepada takdir. Bagi saya takdir adalah akumulasi dari pilihan-pilihan yang kita buat. Takdir adalah ujung dari jalan yang telah ditempuh. Saya paling tidak suka mendengar kalimat "Udah, serahkan saja pada takdir. Serahkan saja". Jika demikian, apa gunanya berjuang jika takdir sudah ada? Apa gunanya bergerak jika ujung jalan telah ada dan kemana pun arah yang ditempuh akhirnya sama jua?
Saya telah memilih jalan yang sulit, yang telah saya tanamkan di dalam diri sejak dulu. Saya tidak mau hidup seperti kebanyakan orang. Mengejar prestise melulu, pencitraan sana sini (padahal isinya busuk), hidup melulu hanya bicara soal kawin-beranak-tua, hidup nyaman, aman. Hidup ideal yang menurut saya selalu dijadikan obrolan sampah omong kosong. Itu hanya obrolan anak-anak. Padahal dunia ini kejam, gelap, dan begitu banyak rahasia yang tak terungkap. Saya tidak mau hidup monoton seperti itu.
Mungkin saya nanti akan dicap pembangkang, penolak takdir, atau apalah namanya. Biar! Saya lebih bangga mati di jalan saya sendiri daripada harus hidup berpura-pura di jalan yang ditentukan orang banyak.
Kenapa tulisan ini begitu kasar dan ekstrim nampaknya? Ya, karena saya merasa hidup ini begitu membosankan. Saya dahulu tak pernah hidup lama. Sebagian kebahagiaan saya telah hilang, jadi saya tidak merasa perlu hidup lebih lama. Sebenarnya ada sebagian lagi kebahagiaan yang tersisa di diri saya. Selang beberapa tahun ke depan yang akan menentukan, apakah kebahagiaan itu akan tetap ada atau dicabut dari diri saya. Keputusan yang nanti akan mengubah cara saya menerima kehidupan atau semakin membencinya.
Saya telah memilih jalan yang sulit. Benar, orang-orang di luar sana tidak akan mau mengikuti jalan ini karena memang tak akan ada orang normal yang berani mengambil resiko ini. Orang-orang tak akan berani berjalan di jalan gelap.
Pembangkang-kah saya? Pemberontak-kah saya?
Ya, memang begitu. Saya bukan seorang 'Yes Man', yang hidup berpura-pura aman padahal dunia idealnya adalah gelanggang pertarungan yang kejam. Pilihlah jalan yang sulit, maka kau akan tahu apa itu kekuatan yang sebenarnya.
Sebagai orang yang beragama, saya percaya akan adanya takdir. Tapi sebagai orang yang berakal, saya paling benci menyerahkan semuanya kepada takdir. Bagi saya takdir adalah akumulasi dari pilihan-pilihan yang kita buat. Takdir adalah ujung dari jalan yang telah ditempuh. Saya paling tidak suka mendengar kalimat "Udah, serahkan saja pada takdir. Serahkan saja". Jika demikian, apa gunanya berjuang jika takdir sudah ada? Apa gunanya bergerak jika ujung jalan telah ada dan kemana pun arah yang ditempuh akhirnya sama jua?
Saya telah memilih jalan yang sulit, yang telah saya tanamkan di dalam diri sejak dulu. Saya tidak mau hidup seperti kebanyakan orang. Mengejar prestise melulu, pencitraan sana sini (padahal isinya busuk), hidup melulu hanya bicara soal kawin-beranak-tua, hidup nyaman, aman. Hidup ideal yang menurut saya selalu dijadikan obrolan sampah omong kosong. Itu hanya obrolan anak-anak. Padahal dunia ini kejam, gelap, dan begitu banyak rahasia yang tak terungkap. Saya tidak mau hidup monoton seperti itu.
Mungkin saya nanti akan dicap pembangkang, penolak takdir, atau apalah namanya. Biar! Saya lebih bangga mati di jalan saya sendiri daripada harus hidup berpura-pura di jalan yang ditentukan orang banyak.
Kenapa tulisan ini begitu kasar dan ekstrim nampaknya? Ya, karena saya merasa hidup ini begitu membosankan. Saya dahulu tak pernah hidup lama. Sebagian kebahagiaan saya telah hilang, jadi saya tidak merasa perlu hidup lebih lama. Sebenarnya ada sebagian lagi kebahagiaan yang tersisa di diri saya. Selang beberapa tahun ke depan yang akan menentukan, apakah kebahagiaan itu akan tetap ada atau dicabut dari diri saya. Keputusan yang nanti akan mengubah cara saya menerima kehidupan atau semakin membencinya.
Saya telah memilih jalan yang sulit. Benar, orang-orang di luar sana tidak akan mau mengikuti jalan ini karena memang tak akan ada orang normal yang berani mengambil resiko ini. Orang-orang tak akan berani berjalan di jalan gelap.
Pembangkang-kah saya? Pemberontak-kah saya?
Ya, memang begitu. Saya bukan seorang 'Yes Man', yang hidup berpura-pura aman padahal dunia idealnya adalah gelanggang pertarungan yang kejam. Pilihlah jalan yang sulit, maka kau akan tahu apa itu kekuatan yang sebenarnya.
Komentar
Posting Komentar