Palsu dan Membosankan

Jika dulu ketika bocah, saya masih punya anggapan yang menarik tentang dunia ini. Ada begitu banyak mimpi besar yang saya ikrarkan. Optimis akan kehidupan yang lebih baik, harapan-harapan emas begitu melimpah dalam kepala, dan suasana yang begitu ceria. Sungguh saya naif sekali waktu itu.
Karena waktu itu saya tidak tahu akan kebohongan yang justru lebih melimpah dibanding kebenaran-kebenaran yang ada....

Begitu tumbuh dewasa dan semakin bertambah umur, mata saya perlahan-lahan terbuka. Sebetulnya sejak zaman pendidikan taman kanak-kanak pun saya sudah mulai mencurigai dunia. Dari situlah sikap skeptis saya mulai tumbuh. Namun dalam kadar yang masih rendah. Hingga waktu terus berjalan, kenyataan pun ditampakkan. Bahwa semua tak lebih dari panggung drama. Topeng-topeng bertebaran, manusia-manusia sibuk dengan pencitraan. Semakin dewasa saya lebih banyak disuguhkan dengan kebohongan daripada kejujuran. Akibatnya mata ini begitu mudah melihat muslihat yang dibalut bumbu-bumbu manis. Hati saya mulai mati melihat semua ini. Saya merasa terasing, saya merasa muak.

Saya selalu berpikir, apakah tabiat manusia memang begitu? Tetap berkelit dari kebusukan padahal semua tindakan untuk menutupinya sama sekali tak berguna. Begitu sukakah manusia dengan sandiwara?

Sejujurnya, saya berusaha untuk berbuat baik. Berbuat lurus tanpa perlu menutup-nutupi. Jika saya marah, maka saya marah. Jika saya sedih, saya kelihatan sedih. Jika saya suka, saya bilang suka. Saya benci berbasa-basi, buang-buang waktu bermulut manis agar disukai. Tapi tindakan saya yang berusaha bersikap jujur ternyata membuat hidup saya jauh dari dunia. Saya merasa terpaut jarak yang begitu jauh dari realita. Saya kerap merasa sendirian. Usaha untuk jujur ternyata tidak mendapat tempat dan cenderung tidak disukai.

Alhasil, diri saya membatu jika disuguhkan dengan basa-basi tak jelas. Saya kerap mengetahui kebohongan seseorang hingga akhirnya saya merasa dunia ini palsu dan membosankan. Saya justru menemukan kebenaran jika saya sendirian. Padahal saya tahu sekali manusia ini makhluk sosial, lebih bagus bersama-sama. Tapi justru dalam keramaian ini saya menemukan hal-hal yang menurut saya tak lebih dari sandiwara sampah. Membuat saya selalu menebak-nebak, masih adakah kejujuran dan kebenaran dalam keramaian itu?

Komentar