Kematian adalah keniscayaan. Namun hampir semua orang takut akan kematian.
Mungkin karena terlalu mencintai hidup, terlalu menyayangi yang sudah ada dalam hidupnya, atau karena dosanya masih banyak.
.
Sementara aku, memandang kematian adalah hal wajar, even for myself. Aku tidak terlalu memusingkan soal kematian yang akan datang pada diriku, karena sejujurnya aku tidak terlalu berharap akan hidup lama. Orang yang paling beruntung adalah mereka yang tidak pernah dilahirkan, kemudian dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah yang berumur tua. Setidaknya begitu menurut tulisan seseorang yang pernah kubaca.
.
Aku sama sekali tidak memusingkan bagaimana dampak kematianku pada alam semesta ini. Aku hanyalah keberadaan kecil tak berarti dalam alam semesta yang luas dan tak peduli ini. Kehilangan satu diriku tak akan membuat dunia ini larut dalam kesedihan dan air mata. Karena tak ada ceritanya dunia akan menangisi kepergian seorang yang bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan apakah nanti aku mati dengan baik atau buruk dan apakah aku akan mendapatkan fase yang baik setelah kematian itu.
.
Meskipun kematian adalah keniscayaan, tapi aku memikirkannya setiap hari dalam hidupku. Sejak kecil begitu. Aku suka menebak-nebak bagaimana nanti akhir hidupku ditentukan. Dan apa yang telah kulakukan selama itu. Dan sampai saat tulisan ini kutuliskan, aku masih berstatus sama. Bukanlah manusia yang berarti dan tidak berpengaruh pada keberlangsungan alam semesta. Sebagian diriku bersyukur dengan status itu. Setidaknya aku tidak perlu memikirkan apa yang harus kutinggalkan untuk orang lain. Aku tidak perlu memikirkan perasaan orang-orang terdekatku, karena seminggu atau sebulan setelah kematianku mereka akan kembali dalam rutinitasnya sehari-hari. Tanpa ada gangguan atau sesuatu yang mengusik ritme hidupnya.
.
Aku hanya menginginkan akhir yang baik dan damai.
Mungkin saat aku kembali ke rumahku, atau ke gunung-gunung yang aku cintai.
Komentar
Posting Komentar